Budidaya ikan kerapu (anggota Serranidae, subfamili Epinephelinae) telah berkembang secara luas di Asia. Antara lain di China, Hongkong Taiwan, Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Tak heran, karena jenis ikan ini memiliki nilai jual yang tinggi di pasar lokal maupun ekspor.
Harga jual tinggi inilah yang menjadi daya tarik usaha budidaya kerapu, meskipun perputaran uangnya cukup lama karena untuk mencapai bobot 500 – 600 gram (ukuran konsumsi) dari ukuran benih 7 – 10 cm memakan waktu 10 sampai 18 bulan. Untuk bisa sukses dalam usaha ini, salah satu kuncinya adalah menguasai manajemen pakan. Pasalnya, kerapu merupakan ikan karnivora (pemakan daging) sehingga memerlukan asupan protein yang tinggi dalam pakannya.
Kondisi di tanah air, selama ini pembudidaya cukup kewalahan memenuhi kebutuhan pakan kerapu sebagaimana mestinya. Mereka kesulitan dalam hal penyediaan pakan ikan rucah secara kontinyu sepanjang tahun. Seperti dituturkan Bangun Sitepu pembudidaya kerapu asal Lampung, “Sulit untuk menggunakan ikan rucah saja, terlebih jika musim barat (masa-masa gelombang tinggi di laut) tidak ada persediaan stok ikan di nelayan.”
Di sisi lain, formula pakan pabrikan juga belum mampu menyamai keunggulan pakan ikan rucah dari sisi pertumbuhan. Pembudidaya akhirnya mengambil jalan tengah, mengkombinasikan pemberian pakan pelet dan ikan rucah. “Saya pakai 75 % ikan rucah dan 25 % pelet pada pembesaran kerapu untuk tambahan saja dan pengganti bila ikan rucah sulit didapat,” ujar Bangun yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung.
Pelet vs Rucah
Penggunaan pakan full (keseluruhan) pelet maupun keseluruhan rucah pada budidaya pembesaran kerapu, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Menurut Bangun, penggunaan pakan keseluruhan pelet pada budidaya kerapu bisa mengakibatkan pertumbuhan kerapu menjadi sangat lamban, sehingga waktu panen bisa lebih dari 1,5 tahun. Atau sekitar 3 bulan lebih lambat dibandingkan penggunaan pakan dengan ikan rucah saja.
Pakan Alternatif
Karena alasan tersebut maka pembudidaya umumnya memutuskan menggunakan pakan kombinasi untuk pembesaran kerapu. Dan untuk pakan kombinasi ini, rekomendasi peneliti kerapu asal Australia, Mike Rimmer bisa dijadikan acuan. Dia bersama tim di bawah naungan ACIAR (Australian Centre International Agricultural Research) telah mencoba mengujicobakan pakan alternatif untuk kerapu tikus.
Pembuatan pakan sendiri oleh pembudidaya berdasarkan formulasi yang telah direkomendasikan dari hasil penelitian diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada ikan rucah. Tentunya, ramuan pakan yang dibuat harus mampu memenuhi kebutuhan protein dan nutrisi yang diperlukan kerapu sehinga tidak mengurangi kecepatan pertumbuhannya.http://www.trobos.com
Harga jual tinggi inilah yang menjadi daya tarik usaha budidaya kerapu, meskipun perputaran uangnya cukup lama karena untuk mencapai bobot 500 – 600 gram (ukuran konsumsi) dari ukuran benih 7 – 10 cm memakan waktu 10 sampai 18 bulan. Untuk bisa sukses dalam usaha ini, salah satu kuncinya adalah menguasai manajemen pakan. Pasalnya, kerapu merupakan ikan karnivora (pemakan daging) sehingga memerlukan asupan protein yang tinggi dalam pakannya.
Kondisi di tanah air, selama ini pembudidaya cukup kewalahan memenuhi kebutuhan pakan kerapu sebagaimana mestinya. Mereka kesulitan dalam hal penyediaan pakan ikan rucah secara kontinyu sepanjang tahun. Seperti dituturkan Bangun Sitepu pembudidaya kerapu asal Lampung, “Sulit untuk menggunakan ikan rucah saja, terlebih jika musim barat (masa-masa gelombang tinggi di laut) tidak ada persediaan stok ikan di nelayan.”
Di sisi lain, formula pakan pabrikan juga belum mampu menyamai keunggulan pakan ikan rucah dari sisi pertumbuhan. Pembudidaya akhirnya mengambil jalan tengah, mengkombinasikan pemberian pakan pelet dan ikan rucah. “Saya pakai 75 % ikan rucah dan 25 % pelet pada pembesaran kerapu untuk tambahan saja dan pengganti bila ikan rucah sulit didapat,” ujar Bangun yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung.
Pelet vs Rucah
Penggunaan pakan full (keseluruhan) pelet maupun keseluruhan rucah pada budidaya pembesaran kerapu, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Menurut Bangun, penggunaan pakan keseluruhan pelet pada budidaya kerapu bisa mengakibatkan pertumbuhan kerapu menjadi sangat lamban, sehingga waktu panen bisa lebih dari 1,5 tahun. Atau sekitar 3 bulan lebih lambat dibandingkan penggunaan pakan dengan ikan rucah saja.
Pakan Alternatif
Karena alasan tersebut maka pembudidaya umumnya memutuskan menggunakan pakan kombinasi untuk pembesaran kerapu. Dan untuk pakan kombinasi ini, rekomendasi peneliti kerapu asal Australia, Mike Rimmer bisa dijadikan acuan. Dia bersama tim di bawah naungan ACIAR (Australian Centre International Agricultural Research) telah mencoba mengujicobakan pakan alternatif untuk kerapu tikus.
Pembuatan pakan sendiri oleh pembudidaya berdasarkan formulasi yang telah direkomendasikan dari hasil penelitian diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada ikan rucah. Tentunya, ramuan pakan yang dibuat harus mampu memenuhi kebutuhan protein dan nutrisi yang diperlukan kerapu sehinga tidak mengurangi kecepatan pertumbuhannya.http://www.trobos.com
Label:
Pakan Ikan
0 komentar:
Posting Komentar